Jurnal Ar-Risalah 2015
FAKTOR PERILAKU KEWARGANEGARAAN ORGANISASI
(ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR) DAN KESESUAIAN DALAM KEPRIBADIAN
ISLAMI
DALAM MENDUKUNG KINERJA PEKERJAAN
Oleh: Suharto, SE., M.Ak.,
(Dosen STAI Miftahul Huda Subang)
Abstrak
Perilaku OCB (Organizational Citizenship Behavior)
merupakan perilaku yang penting untuk meningkatkan kinerja pegawai. Perilaku
tersebut mengembangkan untuk membantu orang lain atau yang dikenal dengan sikap
altruieme, saling tolong menolong, dan meningkatkan sikap keihlasan. Konsep ini
sesuai dengan pengembangan kepribadian dalam Islam. Sehingga meskipun konsep
ini diadopsi dari para ahli manajemen SDM luar tetapi penting untuk diterapkan
dalam lembaga yang dikelola oleh masyarakat termasuk lembaga keislaman.
Kata Kunci: Organizational Citizenship Behavior, perilaku, konsep tolong menolong, ikhlas
Abstract
Behavior of OCB (Organizational Citizenship
Behavior) is important attitude to increase job perfoemance. This attitude will
develop to hel other people which konwon as altruisme behavior, help each
other, and sincere attitude. This concept is apropiate with Islam. Although,
OCB was adopted from other lecturer Human Resources but it is very important to
apply in social organization mainly in islamic organization.
Key words: Organizational
Citizenship Behavior, attitude, help each other, sincere attitude
A. Pendahuluan
1.
Latar Belakang
Organizational citizenship behavior disingkat sebagai OCB
dan diterjemahkan dengan perlaku
kewarganegaraan organisasi termasuk istilah yang penting dalam kajian manajemen sumber daya manusia.
Meskipun istilah tersebut muncul pada
tahun 1938 tapi masih menjadi tema yang hangat pada berbagai jurnal yang terbit
pada saat ini.
Organizational citizenship behavior adalah perilaku alami yang bebas untuk memilih. Hal ini dapat dikatakan
bahwa perilaku kewarganegaraan organisasional bukan merupakan bagian resmi dari
persyaratan pekerjaan kepada karyawan, bagaimanapun, sikap dapat meningkatkan
efektivitas organisasi.
Dengan kata lain jika OCB
diterapkan oleh karyawan maka perilaku karyawan tidak hanya memikirkan
pekerjaan sendiri tetapi juga mau memikirkan pekerjaan orang lain atau rekan
kerjanya meskipun hal tersebut diluar dari job deskripsi dari pekerjaan rekaan
pekerjanya. Hal ini tidak hanya menguntungkan penyelesaian pekerjaan rekan
sekerja tetapi juga bagi dirinya karena dengan kepedulian sesama rekan pekerja
maka akan meningkatkan rasa kasih sayang sesma pegawai disamping akan
mempercepat penyelesaian pekerjaan sehingga akan meningkatkan kinerja
pekerjaannya.
2.
Tujuan Penulisan
Pada kajian ini penulis ingin
menelaah pengertian dari perilaku OCB menurut beberapa literatur. Selain itu
penulis juga akan membandingkan konsep OCB dengan beberapa konsep yang dikenal
dalam Islam.
B. Kajian Pustaka
1.
Pemahaman Konsep
OCB
Smith dkk., menunjukkan bahwa
perilaku kewarganegaraan sebagai bentuk kontribusi pekerja terhadap organisasi
dan di luar dari deskripsi pekerjaan formal. Spector juga mendefinisikan kesamaan, di mana
dia mengatakan bahwa perilaku kewar-ganegaraan organisasional sebagai perilaku
di luar persyaratan formal, dan itu akan bermanfaat bagi organisasi. Seperti
Podsakoff dkk., mendefinisikan bahwa perilaku kewarganegaraan adalah pilihan
pribadi, itu bukan tugas bagi staf untuk menerapkannya.
Selanjutnya, Podsakoff dkk.,
menyimpulkan bahwa ada beberapa alasan mengapa perilaku citizenship dapat
mempengaruhi efektivitas organisasi, yaitu: 1. Membantu rekan kerja
menyelesaikan pekerjaan dan manajemen; 2. Membantu meram-pingkan penggunaan
sumber daya organisasi untuk tujuan produktif, 3. Menurunkan tingkat kebutuhan
sumber daya organisasi untuk tujuan produktif; 4. Efektif kebija-kan untuk
koordinasi kegiatan antara anggota tim dan latar belakang dari kelompok kerja;
5. Meningkatkan kemampuan organisasi untuk mempertahankan sumber daya manusia
untuk beradaptasi dengan efek bahwa pekerjaan organisasi adalah menarik; 6.
Meningkatkan stabilitas kemampuan kerja organisasi; 7. Meningkatkan kemampu-an
organisasi untuk beradaptasi dengan perubahan dalam lingkungan pekerjaan.
Oleh karena itu, organizational
citizenship behaviordapat ditentukan oleh budaya pandangan positif kepada
karyawan. Biasanya, hal itu dapat dilakukan dengan mem-berikan contoh atau pola
yang baik, melalui pemodelan atau imitasi dari karyawan yang telah bekerja
sebelumnya dalam suatu organisasi.
Dengan demikian, organizational
citizenship behavior dapat didefinisikan sebagai: a. perilaku yang bersifat
sukarela dan tidak memasukkan unsur pemaksaan dalam kepentingan organisasi; b.
Perilaku ini muncul tanpa perintah resmi. c. tidak berhu-bungan langsung dengan
sistem reward.
Berdasarkan definisi itu, perilaku
organisasi kewarganegaraan bagi para guru dapat didefinisikan sebagai perilaku
yang dilakukan oleh guru di sekolah. Mereka melakukannya secara sukarela. Mereka
tidak mengharapkan imbalan apapun, dan perilaku yang tidak berkaitan dengan
sistem reward formal dan dapat meningkatkan fungsi organisasi.
Organizational citizenship behavior adalah konsep yang dikembangkan dalam dua setengah dekade terakhir.
Organ mengatakan bahwa konsep organizational citizenship behavior awalnya
dikembangkan oleh Barnard pada tahun 1938 sebagai “keinginan untuk bekerja
sama”, maka ada konsep organizational citizenship behavior, perilaku
yang ditunjukkan oleh karyawan dalam organisasi formal. Biasanya, hal tersebut
di-tunjukkan melalui deskripsi pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya,
sehingga staf baik dan buruk dapat ditentukan menyeluruh oleh deskripsi
pekerjaannya itu. Hal ini disebut sebagai peran-perilaku. Namun, untuk mendukung
keberhasilan tu-gas dalam organisasi, maka karyawan diharapkan untuk bekerja
tidak dalam tugas masing-masing, tetapi mereka dibutuhkan untuk bekerja ekstra
peran lebih dari des-kripsi pekerjaan formal mereka (perilaku peran ekstra).
Hal ini disebut sebagai organi-zational citizenship behavior.
Kedua istilah (dalam perilaku peran dan
perilaku peran ekstra) memiliki perbedaan dalam hal implikasi. Peran perilaku
dalam kaitannya dengan pahala dan huku-man dan juga terkait dengan penghargaan
ekstrinsik, sedangkan perilaku peran ekstra adalah independen, ia bebas dari
hukuman.
Hal ini terkait dengan penghargaan
intrinsik. Perilaku peran ekstra yang ada sebagai akibat dari karyawan dapat
mera-sakan kepuasan jika mereka dapat melakukan sesuatu yang lebih untuk organisasi
mereka, seperti membantu orang lain, relawan untuk tugas tambahan, mematuhi
per-aturan dan prosedur di tempat kerja. Semua perilaku ini mencerminkan
perilaku pro-sosial, perilaku sosial yang positif, konstruktif dan bermanfaat.
Tujuannya adalah un-tuk mendukung berbagai organisasi, lingkungan sosial dan
psikologis.
Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa perilaku kewarganegaraan organisasi adalah:
a) Perilaku sukarela bukanlah tindakan paksa pada hal-hal yang menempatkan
kebu-tuhan organisasi;
b) Perilaku karyawan yang melakukan dari kepuasan, dan berdasarkan kinerja,
tidak perlu bertanya.
c) Tidak ada hubungan langsung dan terbuka dengan sistem reward formal.
Ada dua kategori perilaku warga
organisasi, perilaku organisasi kewarganegaraan (Organization) dan kewarganegaraan
organisasi perilaku (individu). Ke-warganegaraan Organisasi perilaku adalah
perilaku yang umumnya bermanfaat bagi organisasi, seperti ketaatan kepada
aturan untuk menjaga ketertiban, tinggal di kantor lebih dari jam kerja. Sementara
warga organisasi perilaku- adalah perilaku yang secara langsung menguntungkan
dengan orang lain, dan secara tidak langsung menguntungkan bagi organisasi,
seperti membantu seorang teman yang berhalangan hadir kerja dan memiliki
perhatian pribadi untuk profesional lainnya. Kedua perilaku dapat meningkatkan
fungsi organisasi dan dapat dijalankan di luar jangkauan dari deskripsi
pekerjaan formal.
2.
Dimensi OCB
Para ahli seperti MacKenzie,
Podsakoff, Ahearne, MacKenzie, Podsakoff menyatakan bahwa ada tiga dimensi
untuk perilaku kewargaan organisasi, yaitu: perilaku membantu, yang
menggambarkan sebagai keinginan karyawan untuk memban-tu karyawan lain dan
keinginan untuk bekerja dengan warga lainnya. Kedua, keta-atan yang didefinisikan sebagai staf yang patuh terhadap
peraturan pemerintah dan, ketiga toleran, kemampuan untuk beradaptasi dengan
ketidaknyamanan yang terjadi di lingkungan kerja.
Menurut Organ, ada lima dimensi organizational
citizenship behavior, yaitu:
a) Altruisme, ini disebut dengan tindakan sukarela karyawan untuk membantu
pe-kerja lain mengatasi masalah mereka, untuk memberikan instruksi kepada
karya-wan baru dan untuk membantu karyawan untuk mendapatkan materi baru yang
diperlukan.
b) Kegigihan, dimensi ini mengacu pada berbagai perilaku yang melebihi
resolusi mi-nimum sebagai ketepatan waktu, merampingkan bekerja dan menghemat
sumber daya.
c) Sportif, kesediaan individu untuk menanggung penderitaan tanpa mengeluh
dan merasa dirugikan.
d) Peradaban, mengacu pada tindakan jauh ke depan untuk membantu orang lain
untuk menghindari membuat kesalahan atau memiliki masalah seperti untuk
menginformasikan keputusan atau tindakan yang diambil yang mempengaruhi orang
lain
e) Civic Virtue, menunjukkan keterlibatan
konstruktif dalam proses organisasi politik seperti membaca pemberitahuan,
email, untuk menghadiri pertemuan dan untuk mengetahui apa yang terjadi dalam
organisasi.
Lain dimensi yang disebutkan oleh Dyne
dkk., seperti, kesetiaan, ketaatan, ke-terlibatan sosial, pendukung keterlibatan,
dan keterlibatan fungsi Menurut Henry Moon dkk, ada empat dimensi kunci dari perilaku
warga organisasi, yaitu:
a) Membantu perilaku, yang juga disebut dengan altruisme, yang dilakukan
interper-sonal dan bebas, bahwa ia memiliki energi yang kuat untuk mendukung
rekan-re-kan kerjanya.
b) Sportif adalah tindakan untuk mengurangi atau mencegah kejadian negatif
di tem-pat kerja. Bentuk solidaritas dapat dilihat pada pekerja yang fleksibel
dan toleran. Mampu menahan diri dan tidak mengeluh dalam situasi yang tidak
diinginkan, ti-dak mengkritik satu sama lain dan menghindari berfokus pada
hal-hal negatif dari situasi kerja yang berbahaya. Tujuan mempertahankan
persahabatan adalah ling-kungan kerja yang positif.
c) Inovasi, di mana mengacu pada perilaku yang berfokus pada upaya inovatif
untuk mereformasi dan meningkatkan kualitas produk. Sebagai contoh, kontribusi
konstruktif, endors dengan ide-ide baru, dan proaktif untuk
mengembangkan metode baru dan responsif.
d) Ketaatan, yang difokuskan untuk mendukung dan mengikuti aturan serta
aturan
Tiga dimensi organizational
citizenship behavior, yang lain yaitu:
a) Membantu perilaku, yaitu sikap yang menggambarkan perilaku karyawan itu
yang ingin membantu sesama karyawan. Misalnya, membantu rekan memecahkan tugas
yang sulit, untuk membantu menyesuaikan pekerjaan bagi para pekerja baru.
b) Civic kebajikan, mengacu pada tindakan yang
konstruktif dalam mengembangkan kegiatan organisasi, seperti untuk hadir pada
pertemuan secara sukarela dan un-tuk merespon korespondensi apapun dengan
cepat.
c) Sportif, menunjukkan keinginan karyawan untuk menjadi toleran terhadap
sikap yang tidak mendukung yang mungkin terjadi di tempat kerja. Misalnya, dia
tidak mudah untuk melakukan pengaduan kepada masalah kecil dan dia tidak
mencari-cari kesalahan dengan pekerja lainnya.
C.
Pembahasan
1.
Prinsip OCB dan
Kesesuaian Dalam Islam
Organizational citizenship
behavior dapat didefinisikan sebagai:
a. perilaku yang bersifat sukarela dan tidak memasukkan unsur pemaksaan dalam
kepentingan organisasi; b. Perilaku ini muncul tanpa perintah resmi. c. tidak
berhu-bungan langsung dengan sistem reward
Definisi ini mengacu pada aspek
organizational citizenship behavior yang disimpulkan oleh Podsakof dkk.,
di mana membantu melakukan (yang menentukan dimensi altruisme, ketekunan,
peradaban menjadi satu dimensi) kemurnian, dan sportivitas
Menurut Organ, ada lima
dimensi organizational citizenship behavior, yaitu:
a) Altruisme, ini disebut dengan tindakan sukarela
karyawan untuk membantu pe-kerja lain mengatasi masalah mereka, untuk
memberikan instruksi kepada karya-wan baru dan untuk membantu karyawan untuk
mendapatkan materi baru yang diperlukan.
b) Kegigihan, dimensi ini mengacu pada berbagai
perilaku yang melebihi resolusi mi-nimum sebagai ketepatan waktu, merampingkan
bekerja dan menghemat sumber daya.
c)
Sportif, kesediaan
individu untuk menanggung penderitaan tanpa mengeluh dan merasa dirugikan.
d) Peradaban, mengacu pada tindakan jauh ke depan
untuk membantu orang lain untuk menghindari membuat kesalahan atau memiliki masalah
seperti untuk menginformasikan keputusan atau tindakan yang diambil yang
mempengaruhi orang lain
e) Civic Virtue, menunjukkan keterlibatan konstruktif dalam proses organisasi politik
seperti membaca pemberitahuan, email, untuk menghadiri pertemuan dan untuk
mengetahui apa yang terjadi dalam organisasi
Dalam kitab suci Alquran Surat
Al-araf: 29 Allah
berfirman bahwa luruskan (dirimu) setiap shalat dan sembahlah Allah dengan
mengihlaskan ketataanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada
permulaan (demikian) pulalah kamu akan kembali kepada-Nya. Konsep ini dalam
sikap OCB berarti sikap altruisme yaitu
tindakan sukarela karyawan untuk membantu pekerja lain mengatasi masalah
mereka, untuk memberikan instruksi kepada karyawan baru dan untuk membantu
karyawan untuk mendapatkan materi baru yang diperlukan.
OCB juga selaras dengan
prinsip Islam dalam tanggung jawab. Allah SWT berfirman bahwa Allah tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala
(dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari jekahatan) yang
dikerjakannya (Al-Baqarah: 286). Rasulullah SAW juga mengatakan bahwa setiap
kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas
kepemimpinannya. Sikap ini dalam OCB yaitu sikap sportif. Sportif, kesediaan
individu untuk menanggung penderitaan tanpa mengeluh dan merasa dirugikan.
Sikap OCB juga ditunjukkan
oleh konsep Islam pada sikap adil. Allah SWT berfirman bahwa dan Allah telah
meninggikan langit-langit dan Dia meletakan neraca (keadilan) supaya kamu
jangan melampuai batas neraca itu. Dan tegakkan timbangan itu dengan adil dan
janganlah kamu mengurangi neraca tersebut. Selanjutnya di dalam surat Al-Maidah
ayat 8 Allah SWT juga berfirman bahwa hai orang-orang yang beriman, hendaklah
kamu jadi orang-orang yagn selalu menegakkan kebenaran karena Allah SWT,
menjadi saksi dengan adil. Dan janganlh sekali-kali kebencianmu terhadap
sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Belaku adilah karena
adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertakwalah kepada Allah SWT.
Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
D. Penutup
1.
Kesimpulan
Sikap OC ditunjukkan dengan
perilaku yang mendukung kinerja kerja pegawai seperti sikap untuk membantu
rekan sekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya, sikap turut untuk sltruisme,
kegigihan, perdaban dan civic vertue. Sikap tersebut sesuai dengan konsep dalam
Islam untuk memandang manusia dengan sikap saling tolong menonong,
mengembangkan sikap keihlasan dan peningkatan rasa adil kepada sesama.
2.
Saran
Pentingnya sikap OCB dalam
melakukan pekerjaan seharihari perlu diterapkan oleh pegawai. Penerapan sikap
OCB yang baik tersebut dapat meningkatkan kinerja pegawai dalam melakukan
pekerjaannya.
Daftar
Pustaka
Baron, Robert, and Jerald Greenberg, 2003, Organizational
Behavior, 6th Edition,
Prentice Hall, New Jersey
Bobbie, T. 2007.
An analysis of the relationships among job satisfaction, organizational trust
and organizational commitment in an acute care hospital. Saybrook, jurnal dari
Graduate School and Research Centre,. pp 161
Davis, Keith and
John W. Stroom, 1997, Organizational behavior, Human Behavior at Work, 10th
Edition, International Edition, McGraw-Hill, New York.
Dessler, Gary,
2000, Human Resources Management, 8th Edition, Prentice hall,
International Inc.
Fatdina. 2013. Peran Dukungan Organisasi Yang Dirasakan Karyawan Sebagai Mediator
Pengaruh Keadilan Procedural Terhadap Perilaku Kewarganegaraan Organisasi. artikel pada PPS UGM. tidak dipublikasikan
Gibson, James L.,
John M.Ivancevich, and James H.Donnelly, 1996, Organization
Behavior-Structure-Process, 7th Edition, Erwin homewood, Boston.
Rahman,
U. 2013. Efikasi, kepuasan kerja dan Organizational Citizenship Behavior pada
Guru MAN di Sulawesi. Jurnal Lentera Pendidikan, Vol. 16, 1 Juni 2013, 1-15.
Komentar
Posting Komentar