Ar-Risalah Vol. II
Seleksi
dalam Pendidikan Guna memberdayakan
Sumber Daya Manusia
Oleh;
M. Mahbub al basyari
Abstrak
Seleksi
merupakan proses untuk mendapatkan karyawan yang berkompeten dalam bidangnya,
dan seleksi digunakan sebagai bentuk meningkatkan kualitas organisasi dan
bagian dari mengembangkan sumber daya manusia (sdm) yang selama ini dinilai
masih rendah. Setiap oragnisasi tentunya akan memilih calon pegawai/karyawan
yang bisa di ajak kerjasama dan loyal terhadap organisasi yang nantinya akan
dijadikan tempat untuk meningkatkan program-program organiasai.
I.
Pendahuluan
Secara
khusus dalam proses seleksi yang kemudian setelah itu di rekrut/diangkat akan
menjadi tugas dan fungsi tenaga pendidik (guru dan dosen) didasarkan pada
Undang-Undang No 14 Tahun 2007, yaitu sebagai agen pembelajaran untuk
meningkatkan mutu pendidikan nasional, pengembang ilmu pengetahuan, teknologi,
dan seni, serta pengabdi kepada masyarakat. Dalam pasal 6 disebutkan bahwa:
Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk
melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan
nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab.
Keputusan
mengenai seleksi dimaksudkan untuk menempatkan orang yang tepat pada jabatan
yang tepat. Tepat tidaknya penempatan seseorang bergantung pada kesesuaian
antara pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan seseorang dan tuntutan job,
juga kecocokan antara kepribadian, minat, kesukaan serta kesempatan, dan budaya
yang terkait dengan perusahaan secara
keseluruhan. Pekerjaan lowong tersebut mungkin saja diciptakan atau baru
saja ditinggalkan oleh karyawan yang pension atau mengundurkan diri, pindah
kebagian lain diturunkan pangkatnya atau dikeluarkan.
Sehingga
kemudian dalam kaitannya dengan manajemen sumber daya manusia yaitu berkisar
pada upaya mengelola unsur manusia dengan segala potensi yang dimilikinya
seefektif mungkin sehingga dapat diperoleh sumber daya manusia yang puas (satisfied) dan memuaskan (satisfactory) bagi organisasi itu
sendiri.
II. Pembahasan
Definisi
Manajemen Sumber Daya Manusia; Konsep dan Tantangan Pendidikan
Definisi Manajemen Tenaga Pendidik Dan
Kependidikan dalam proses pendidikan memegang peranan strategis terutama dalam
upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai
yang diinginkan. Dipandang dari dimensi pembelajaran, peranan pendidik dalam
masyarakat Indonesia tetap dominan sekalipun teknologi yang dapat dimanfaatkan
dalam proses pembelajaran berkembang amat cepat. Untuk memahami konsep
manajemen tenaga pendidik dan kependidikan, kita terlebih dahulu harus mengerti
arti manajemen dan tenaga pendidik dan kependidikan. Kata Manajemen berasal
dari bahasa Inggris, to manage yang artinya mengatur atau mengelola. Menurut
Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasinal pasal 1 ayat 5
dan 6 yang dimaksud dengan tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan
diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan untuk
menyeleksi calon pendidik yaitu sesuai dengan tenaga kependidikan yang kemudian
berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaswara,
tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan
kekhususannya serta berpartisispasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Jadi manajemen dalam seleksi guna untuk
menjadi tenaga pendidik dan kependidikan berkualitas adalah aktivitas yang
harus dilakukan mulai dari tenaga pendidik dan kependidikan masuk ke dalam
organisasi pendidikan sampai akhirnya berhenti melalui proses perencanaan SDM,
perekrutan, seleksi, penempatan, pemberian, kompensasi, penghargaan, pendidikan
dan latihan/ pengembangan dan pemberhentian.[1]
Sehingga
sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya yang terdapat dalam
organisasi, dan meliputi semua orang yang beraktivitas didalamnya. Secara umum,
sumber daya manusia yang terdapat dalam suatu organisasi bisa dikelompokan atas
dua macam, yakni; (1) sumber daya manusia (human
resource), dan (2) Sumber daya non-manusia (non-human resources). Yang termasuk non-sumber daya manusia ini
antara lain adalah mesin, teknologi, bahan-bahan material.
Jadi
secara sederhana pengertian sumber daya manusia adalah mengelola sumber daya
manusia. Dari keseluruhan sumber daya yang tersedia dalam suatu organisasi,
baik organisasi publik maupun swasta, sumber daya manusialah yang paling
penting dan sangat menentukan. Sumber daya manusia merupakan satu-satunya
sumber daya yang memiliki akal, perasaan, keinginan, kemampuan, keterampilan,
pengetahuan, dorongan, daya dan karya. Semua potensi sumber daya manusia
tersebut sangat berpengaruh terhadap upaya organisasi dalam pencapaian
tujuannya. Betapapun majunya teknologi, berkembangnya teknologi, tersedianya
modal dan memadainya bahan, namun jika tanpa sumber daya manusia maka akan
sulit bagi organisasi untuk mencapai tujuannya. Betapapun bagusnya perumusan
tujuan dan rencana organisasi, agaknya akan terasa sis-sia belaka jika unsur
sumber daya manusianya tidak diperhatikan, apalagi kalau dilantarkan.[2]
Dan
kemudian manajemen telah banyak disebut sebagai “seni untuk menyelesaikan
pekerjaan melalui orang lain”. Definisi ini, yang dikemukakan oleh Mary Parker
Follet, mengandung arti bahwa para manajer mencapi tujuan-tujuan organisasi
melalui pengaturan orang-orang lain untukmelaksanakan berbagai pekerjaan yang
diperlukan, atau dengan kata lain dengan tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan
itu sendiri.
Manajemen
memang dapat mempunyai pengertian lebih luas daripada itu, tetapi definisi di
atas memberikan kepada kita kenyataan bahwa kita terutama mengelola sumber daya manusia bukan material atau
financial. Di lain pihak, manajemen mencakup
fungsi-fungsi perencanaan (penetepan
apa yang dilakukan), pengorganisasian (perancangan
dan penugasan kelompok kerja), penyusunan
personalia (penarikan, seleksi, pengembangan, pemberian kompensasi dan
penilaian prestasi kerja), pengarahan (motivasi,
kepemimpinan, integrasi dan pengelolaan konflik) dan pengawasan.
Manajemen
sumber daya manusia adalah penarikan, seleksi, pengembangan, pemeliharaan dan
penggunaan sumberdaya manusia untuk mencapai baik tujuan-tujuan individu maupun
organisasi.[3]
1. Pengertian Seleksi
Seleksi
didefinisikan sebagai suatu proses pengambilan keputusan dimana individu
dipilih untuk mengisi suatu jabatan yang didasarkan pada penilaian terhadap
seberapa besar karakteristik individu yang bersangkutan, sesuai dengan yang
dipersyaratkan oleh jabatan tersebut. Tujuan utama seleksi adalah untuk mengisi
kekosongan jabatan dengan personil yang memenuhi persyaratan yang ditentukan
serta untuk membantu meminimalisasi pemborosan waktu, usaha, dan biaya yang
harus diinvestasikan bagi pengembangan pendidikan para pegawai.
Seleksi
adalah suatu kegiatan pemilihan dan penentuan pelamar yang diterima atau yang
ditolak untuk menjadi karyawan perusahan/organisasi itu. Dan kemudian dasar
dari seleksi itu adalah job specification
dari perusahaan bersangkutan.
Metode
seleksi dikenal atas “metode nonilmiah dan metode ilmiah” metode nonilmiah
yaitu seleksi yang dilaksanakan tidak didasarkan pada criteria/standar atau
spesifikasi kebutuhan nyata pekerjaan atau jabatan, tetapi hanya didasarkan
kepada perkiraan dan pengalaman kerja.
Seleksi
dalam hal ini tidak berpedoman kepada Job
Description dan job specification
dari jabatan yang akan diisi itu. Seleksi nonilmiah (observation method) ini, kurang dapat dipertanggungjawabkan,
karena kualitas dan kuantitas karyawan yang diterima tidak sesuai dengan
kebutuhan organisasi bahkan sering menimbulkan mismanagement kepegawaian.
Metode ilmiah, adalah seleksi yang didasarkan
kepada ilmu pengetahuan dann kebutuhan nyata jabatan yang akan diisi serta
berpedoman kepada kriteria spesifikasi dan standar-standar tertentu. Dengan
seleksi ilmiah ini diharapkan akan diperoleh karyawan yang qualified dan penempatannya yang tepat, sehingga pembinaannya dan
pengembangannya relative lebih mudah.[4]
Seleksi merupakan langkah yang diambil
segera setelah terlaksananya fungsi rekrutmen. Seperti halnya fungsi rekrutmen,
proses seleksi meruapakan salah satu fungsi terpenting dalam manajemen sumber
daya manusia, karena tersedia/pekerjaan dalam jumlah dan kualitas yang sesuai
dengan kebutuhan organisasi, ditrima dan tidaknya pelamar yang telah lulus
proses rekrutmen, tepat/tidaknya penempatan seorang pekerja pada posisi-posisi
tertentu, sangat ditentukan oleh fungsi seleksi dan penempatan ini. Jika fungsi
itu tidak dilaksanakan dengan baik maka dengan sendirinya akan berakibat fatal
terhadap pencapaian tujuan-tujuan organisasi.
Seleksi merupakan serangkaian langah
kegiatan yang dilaksanakan untuk memutuskan apakah seseorang pelamar
ditrima/ditolak, tetap/tidaknya seorang pekerja ditempatkan pada posisi-posisi
tertentu yang ada di dalam organisasi.[5]
Seleksi
tenaga kerja adalah suatu proses menemukan tenaga kerja yang tepat dari sekian
banyak kandidat atau calon yang ada. Tahap awal yang perlu dilakukan setelah
menerima berkas lamaran adalah melihat daftar riwayat hidup/cv/curriculum
vittae milik pelamar. Kemudian dari cv pelamar dilakukan penyortiran antara
pelamar yang akan dipanggil dengan yang gagal memenuhi standar suatu pekerjaan.
Lalu berikutnya adalah memanggil kandidat terpilih untuk dilakukan ujian test
tertulis, wawancara kerja/interview dan proses seleksi lainnya.
Kemudian seleksi bisa diartikan menjadi
proses mendapatkan dan menggunkan informasi mengenai plamar kerja untuk
menentukan siapa yang seharusnya diterima menduduki posisi jangka pendek dan
jangka panjang.[6]
2. Seleksi SDM &
Personalia Dalam Dunia Pendidikan Islam
Salah
satu upaya untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul ini adalah
ditempuh melalui pendidikan, maka sudah barang tentu bangsa Indonesia akan
selalu tertinggal dengan bangsa lain di dunia. Jadi fenomena bahwa pemerintah
Indonesia masih memandang pendidikan dengan sebelah mata harus mulai
direformasi. Pemerintah seyogyanya mulai memiliki polical will untuk memprioritaskan
pendidikan dalam pembangunan yang sedang digalakkan saat ini, sebagai wahana
untuk mempersiapkan sumber daya manusia.
Banyak
sumber daya Manusia guna untuk meningkatkan manajemen sumber daya manajemen
yang terlibat dalam organisasi atau lembaga-lembaga termasuk lembaga
pendidikan, antara lain; manusia, sarana dan prasarana, biaya, teknologi, dan informasi.
Namun demikian sumber daya yang paling penting dalam pendidikan adalah sumber
daya manusia. Bagaimana manajer menyediakan tenaga, bakat kreativitas, dan
semangatnya bagi organisasi. Karena itu tugas penting dari seorang manajer
adalah menyeleksi, menempatkan, melatih dan mengembangkan sumber daya manusia.
Persoalannya pengembangan sumber daya manusia mempunyai hubungan yang positif
dengan produktivitas dan pertumbuhan organisasi, kepuasan kerja, kekuatan dan
profesionalitas manajer.
Dalam
pendidikan sumber daya manusia berdasarkan ruang lingkup keterlibatannya ke
dalam penyelenggaraan pendidikan dikelompokan ke dalam SDM Pendidikan dalam
sekolah dan SDM pendidikan luar sekolah. Apabila dilihat dari segi tugas
pokoknya, dibedakan menurut tenaga teknis, tenaga administrative dan tenaga
penunjang. Selanjutnya dalam PP 38/1992 tentang tenaga pendidikan ditegaskan
pengelompokannya menjadi tenaga pendidik, (pembimbing, pengajar, pelatih),
pengelola, pengawas, teknisi sumber belajar, peneliti dan penguji.
Persoalan
pokok dalam pembinaan tenaga kependidikan adalah pembinaan etos kerja atau
meneyeleksi karyawan baru. Seorang calon karyawan harus mempunyai etos kerja
yang tinggi, dalam hal ini sebagai sikap mental untuk menghasilkan produk kerja
yang baik, bermutu tinggi baik barang maupun jasa. Dan kemudian pada
pengembangan SDM dalam menyeleksi karyawan baru/tenaga kerja harus terlebih
dahulu dilakukan pengawasan dan pengembangan sebelum ditarik menjadi karywan
dalam naungan kerjasama. Tentunya hal ini akan terwujud jika kemampuan dari
calon tenaga kerja mampu membuktikan etos kerjanya yang maksima bagi organisasi
barunya.[7]
3. Syarat-syarat seleksi
Efektivitas
fungsi seleksi sangat ditentukan oleh beberapa syarat penting, dan bahkan
tergantung pada informasi-informasi yang diperoleh dari syarat-syarat tersebut.
Informasi-informasi yang diperoleh melalui syarat-syarat tersebut akan
dijadikan masukan bagi seorang pemimpin organisasi dalam mengambil keputusan
penerimaan bagi seorang pekerja. Syarat-syarat yang dimaksud, adalah:
1. Informasi
analisis jabatan, yang memberikan diskripsi jabatan, spesifikasi jabatan dan
standar-standar prestasi yang disyaratkan setiap jabatan.
2. Rencana-rencana
sumber daya manusia. Yang memberikan informasi kepada manajer tentang
tersedia/tidaknya lowongan pekerjaan dengan organisasi.
3. Keberhasilan
fungsi rekrutmen, yang akan menjamin manajer bahwa tersedia sekelompok orang
yang akan dipilih.[8]
4. Proses Seleksi
Pelamar
juga memperhatikan proses-proses berikut: apakah organisasi memberitahu mereka
apa yang sedang dievaluasi dan mengapa? Apakah organisasi tersebut memberikan
umpan balik mengenai cara penilaiannya? Apakah juga menghargai keinginan
pelamar untuk dirahasiakan? Apakah wakil organisasi bertindak professional dan
menjalankan tugasnya dengan serius? Apakah juga menghargai waktu dan kebutuhan
pelamar akan informasi menganai sejauh mana kemungkinan pelamar memperoleh
hasil positif? Apakah perusahaan atau organisasi memperlakukan pelamar secara
adil atau apakah memperlakukan sejumlah pelamar lebih dari yang lain? Apakah
proses seleksi berhasil menangkap isyarat kemungkinan pelamar berbohong
menganai diriinya, dan apakah organisasi tersebut mengambil langkah untuk
meyakinkan bahwa kejujuran tidak akan merugikan pelamar? seleksi yang efektif
meliputi pengelolaan aspek-aspek ini dan banyak aspek lainnya dari proses
seleksi.
Sehingga
kemudian hasil dari proses seleksi tersebut adalah jika karakteristik
administrasi dan kandungan suatu proses seleksi terutama dialami oleh para
pelamar sendiri, hasilnya dapat dilihat oleh kalangan yang lebih luas. Hal ini
meliputi teman dan kawan sejawat yang menceritakan proses seleksi, teman
sejawat baru dari pelamar yang diterima, manajer perusahaan yang berpartisipasi
dalam proses, dan orang yang bertindak sebagai referensi bagi pelamar. Berdasar
pada siapa yang terpilih dan siapa yang ditolak, semua ini membentuk opini
apakah organiasi menggunakan prosedur yang adil dan membuat pilihan yang bijak
mengenai siapa yang diterima atau dipromosikan. Bahkan, media massa menawarkan
komentar atas keputusan eksekutif melalui proses seleksi. Mereka juga
mempublikasikan laporan mengenai karakteristik demografis pelamar yang berhasil
pada Street Journal yang
membandingkan presentase kaum wanita yang diterima untuk posisi maanajerial
dalam bebarapa organisasi. Hasil ini dengan jelas menunjukan bahwa dalam
organisasi tertentu, beberapa organisasi tampak “adil” dalam menyeleksi kaum
wanita untuk mengisi jabatan manajerial.[9]
Kenudian
proses seleksi dimulai setelah pengumpulan para pelamar yang memenuhi syarat
didapatkan melalui penarikan. Proses ini melibatkan serangkaian tahap yang
menambah kompleksitas dan waktu sebelum keputusan pengadaan personalia diambil.
Jadi, proses seleksi adalah serangkaian langkah kegiatan yang digunakan untuk
memutuskan apakah pelamar diterima atau tidak. Langkah-langkah ini mencakup
pemaduan kebutuhan-kebutuhan kerja palamar dan organisasi. Dalam banyak
departemen personalia, penarikan dan seleksi digabungkan dan disebut Employment Function.[10]
Pada
bagian ini akan dijelaskan apa yang harus kita laksanakan dalam beberapa
kegiatan yang tujuannya memilih calon di antara beberapa calon yang akan kita
tawari pekerjaan atau jabatan yang memang harus diisi. Dan kemudian proses
seleksi sebenarnya terdiri dari dua babak besar. Hal ini dilakukan terutama
bila perusahaan atau organisasi menyeleksi sejumlah tenaga kerja untuk posisi
yang tidak terlalu senior/tinggi melalui pemasangan iklan. Jumlah pelamar untuk
iklan seperti bisa mencapai sepuluh samapi empat puluh kali dari jumlah yang
dibutuhkan. Bila kita hanya membutuhkan dua belas orang Management Trainess misalnya, jumlah lamaran yang diterima bisa
mencapai empat ratus atau lebih, bila hal tersebut terjadi, kita harus
“menciutkan” jumlah calon yang akan mengikuti seleksi tahap kedua sampai jumlah
tertentu. Alas an penciutan tersebut adalah pertimbangan dari segi waktu dan
biaya. Lalu, berapa besarnya jumlah tertentu itu?
Untuk
ini tidak ada ketentuan yang pasi apalagi yang bersifat ilmiah. Sebuah patokan
yang dapat dipergunakan hanyalah berdasarkan logika dan kebiasaan yang dipegang
oleh para praktisi. Kebiasaan itu adalah berdasarkan tahap ahkhir pada saat
keputusan final harus dibuat, yaitu untuk setiap satu lowongan paling sedikit
harus tersedia tiga calon yang memenuhi syarat. Dengan demikian, bila kita akan
menyeleksi 12 trainees, berarti
jumlah calon yang akan mengikuti seleksi babak kedua harus 36 orang. Mereka
inilah yanga akan menjalani proses seleksi yang telah ditetapkan oleh
organisasi yang mungkin mencakup bermacam-macam tes.
Tujuan
dari semua cara atau metode tersebut adalah untuk menggali dan mendapatkan
informasi yang tidak dapat diperoleh dari keterangan yang diberikan secara
tertulis tentang calon. Informasi itu dapat digunakan sebagai dasar untuk
memutuskan siapa calon yang dianggap paling memenuhi syarat yang telah
ditetapkan dalam “Profil Kandidat”. Pada umumnya “alat” yang hampir yang
digunakan oleh beberapa oraganisasi untuk menyeleksi adalah berbagai jenis tes
dan wawancara.[11]
5. Langkah-langkah Seleksi SDM
dalam Kependidikan
Seperti telah disebutkan sebelumnya,
manjemen menetapkan serangkaian tahap yang harus dilalaui oleh pelamar untuk
mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Proses ini di susun
dengan memperhatikan persyaratan-persyaratan jabatan yang telah ditetapkan.
Kemudian manjer memeriksa prestasi para pelamar di waktu yang lalu dan memilih
orang-orang yang memiliki kemampuan, pengalaman dan kepribadian yang paling
memenuhi persyaratan suatu jabatan. Dalam praktek, seleksi sebenarnya tidak
sederhana itu, seleksi lebih rumit daripada yang dibayangkan.
Departemen personalia dapat menggunakan
berbagai prosedur seleksi untuk membandingkan pelamar dengan spesifikasi
jabatan seperti ditunjukan gambar dibawah ini langkah-langkah dalam prosedur
seleksi yang biasa dugunakan paling tidak terdiri dari tujuh langkah. Bagi
pelmar yang berasal dari suplai internal, kadang-kadang tidak perlu melalui
beberapa langkah, seperti penerimaan pendahuluan, pemeriksaan referensi atau
evaluasi medis (kesehatan). Tetapi untuk pelamar eksternal, langkah0langkah
dalam gambar berikut adalah umum. Berikut ini akan dibahas proses seleksi
melalui pembicaraan setiap langkah dalam gambar tersebut.
1
Penerimaan
pendahuluan
pelamar
|
2
Tes-tes
Penerimaan
|
4
Pemeriksaan
Referensi-
referensi
|
3
Wawancara Seleksi
|
5
Evaluasi
Medis
(Tes Kesehatan)
|
6
Wawancara oleh
Penyelia
|
7
Keputusan
Penerimaan
|
Tapi kemudian riset tentang reaksi pelamar
dalam prosedur seleksi menunjukan bahwa pelamar lebih menyukai proses yang
melibatkan mereka dalam kegiatan yang benar-benar berkaitan dengan lowongan
pekerjaan. Bagi pelamar, simulasi dan contoh kerja biasanya dianggap lebih
relevan dari pada tes kognitif tertulis dan analisis tulisan tangan mislanya,
dan mungkin karena alas an ini, pelamar menganggap cari seperti itu lebih adil.
Pelamar mungkin beraksi negative terhadap wawancara yang dilakukan secara
buruk. Pertanyaan diskriminatif atau menyerang jelas menimbulkan kesan
negative. Demikian juga pertanyaan dangkal dan tak berkaitan dengan masalahnya.[12]
6. Tujuan Seleksi Manajemen
Tenaga Pendidik Dan Kependidikan
1)
Tujuan manajemen tenaga
pendidik dan kependidikan secara umum adalah:
Memungkinkan organisasi mendapatkan dan mempertahankan tenaga kerja yang cakap, dapat dipercaya, dan memiliki motivasi tinggi.
Memungkinkan organisasi mendapatkan dan mempertahankan tenaga kerja yang cakap, dapat dipercaya, dan memiliki motivasi tinggi.
2)
Meningkatkan dan
memperbaiki kapasitas yang dimiliki oleh karyawan.
3)
Mengembangkan sistem
kerja dengan kinerja tinggi yang meliputi prosedur perekrutan dan seleksi yang
ketat, sistem kompensasi dan insentif yang disesuaikan dengan kinerja,
pengembangan manajemen serta aktivitas pelatihan yang terkait dengan kebutuhan
organisasi dan individu
4)
Mengembangkan praktik
manajemen dengan komitmen tinggi yang menyadari bahwa tenaga pendidik dan
kependidikan merupakan stakeholder
internal yang berharga serta membantu mengembangkan iklim kerjasama dan
kepercyaan bersama
5)
Menciptakan iklim kerja
yang harmonis.
7. Tingkat-tingkat Seleksi
Tingkat-tingkat
seleksi dikenal atas “seleksi tingkat pertama, seleksi tingkat kedua, dan
seleksi tingkat ketiga”.
Seleksi tingkat pertama
adalah seleksi yang dilakukan menurut prosedur
yang telah ditetapkan perusahaan yang bersangkutan dan jika lulus maka pelamar
dinyatakan diterima dengan status karyawan percobaan atau calon pegawai
(capeg).
Seleksi tingkat kedua adalah
seleksi yang dilakukan selama masa percobaan (capeg) dengan cara mengamati dan
menilai mental, perilaku, kedisplinan, dan kemampuan nyata calon karyawan dalam
menyelesaikan tugas-tugasnya.
Jika
seleksi tingkat kedua ini lulus maka capeg tersebut mengikuti seleksi tingkat
ketiga.
Seleksi tingkat ketiga
adalah seleksi dengan mengikuti prajabatan atau pelatihan, jika lulus maka
calon karyawan (capeg) diangkat menjadi karyawan tetap. Dengan status karyawan
tetap ini maka semua haknya sebagai karyawan akan diterimanya.
Pada
saat ini beberapa organisasi swasta setelah lulus seleksi tingkat ketiga,
karyawan hanya diangkat menjadi “karyawan kontrak” untuk masa 2 atau 3 tahun.
Jika organisasi membutuhkan dankaryawan kontrak tadi berprestasi baik, barulah
menjadi karyawan tetap. Kebijaksanaan ini ditetapkan perusahaan untuk
berjaga-jaga, jika suatu saat perusahaan mengalami kemunduran, karyawan kontrak
dapat diberhentikan tepat habisnya kontrak tanpa membayar uang pesangonannya.
Kebijaksanaan ini menurut Peraturan Perburuhan tidak diperkenankan, tetapi
beberapa organisasi swasta masih melanggarnya. Bahkan masih ada beberapa
organisasi swasta yang menetapkan kebijkasanaan, jika karyawati menikah harus
mengundurkan diri secara sukarela yang perjanjiannya ditetapkan saat
penerimaanya.
a)
Penyeleksi
dalam Kependidikan
Penyeleksi dalam
kependidikan adalah orang-orang yang melaksanakan seleksi itu, artinya yang
menyeleksi adalah kepala sekolah itu sendiri atau ada tim yang ditunjuk sebagai
penyeleksi karyawan baru dengan secara individu maupun kolektif. Penyeleksi ini
harus jujur, objektif dan bebas dari pengaruh “halo efek dan nepotisme”. Jadi
keputusan mereka harus berdasarkan nilai nyata yang dicapai peserta seleksi
itu.
Penyeleksi ini dapat dilakukan oleh:
1.
Bagian Urusan Sumber Daya
Manusia (USDM= bagian personalia).
2.
Pihak ketiga yang
professional.
3.
Kombinasi USDM dan pihak
ketiga.
USDM,
di mana seleksi itu dilakukan oleh orang-orang dalam organisasi bersangkutan saja.
Kemudian pihak ketiga professional, artinya seleksi dilakukan oleh orang-orang
dari luar organisasi, misalnya tes psikologi dilakukan oleh ikatan sarjana
psikologi dan lain-lainnya.
Kombinasi
USDM dan pihak ketiga. Misalnya tes psikologi dan pengetahuan umum dilakukan
pihak ketiga, sedang wawancara dilakukan oleh kombinasi USDM dan pihak ketiga,
hasilnya akan lebih baik. Pelaksanaan seleksi yang baik akan memperoleh
karyawan yang kualitas dan kuantitasnya sesuai dengan kebutuhan
organisasinya/perusahaan, sehingga mismanagement
kepegawaian dapat dihindarkan.[13]
b) Laporan Hasil Seleksi
Kependidikan
Apabila seluruh
proses seleksi telah selesai, petugas atau tim sukses yang melakukan seluruh
proses akuisisi harus membuat laporan untuk diajukan kepada pimpinan inti yang
membutuhkan orang dan kepada atasannya. Pada sebuah orgaisasi atau sekolah yang
telah menerapkan system informasi yang terintegrasi laporan seperti itu dapat
dibuat tanpa kertas dengan melalui fasilitas “e-mail” internal. Laporan hasil
seleksi juga harus dilengkapi dengan penjelasan tentang hasil pemeriksaan
kesehatan dan pengecekan referensi serta usulan tentang syarat-syarat dan
kondisi kerja yang akan dimasukan dalam surat penawaran kerja kependidikan atau
perjanjian kerja dengan calon yang bersangkutan dalam sistem pendidikan.[14]
Penutup
Setelah
kita mengetahui dan mencermati makna apa yang telah ditawarkan di atas tentang
proses ataupun bagaimana menyikapi hasil proses seleksi dalam perekrutan calon
pendidik dan tujuannya, yang akhirnya kemudian diangkat menjadi karyawan/pendidik
baru berkualitas. Sehingga pada tindak lanjut prosesnya menjadi karyawan yang
sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pihak yang berwenang yaitu (tim sukses
dan kepala sekolah). Dibawah ini sekilas hasil dari renungan dan intisarinya.
Sebgai berikut:
1) Dalam
proses seleksi, kelompok pelamar harus melalui tiga tahapan proses, yaitu:
Pra Seleksi, yang melibatkan kebijakan dan penetapan prosedur seleksi. Tugas utama pengujian dalam tahap pra seleksi adalah pengembangan kebijakan seleksi dan keputusan prosedur pra seleksi.
Pra Seleksi, yang melibatkan kebijakan dan penetapan prosedur seleksi. Tugas utama pengujian dalam tahap pra seleksi adalah pengembangan kebijakan seleksi dan keputusan prosedur pra seleksi.
2) Seleksi,
yang merupakan pengajuan seleksi dan implementasi aturan yang ditetapkan pada
tahap pra seleksi. Dalam konteks ini ada dua aspek yang penting dicermati,
yaitu penilaian data dan pelamar serta implikasi tanggung jawab dari keputusan
seleksi.
3) Pasca
Seleksi, tahap dimana terjadi penolakan dan penerimaan pelamar yang melibatkan
daftar kemampuan pelamar, bagian personalia, pembuatan kontrak dan penempatan
pegawai.
Daftar Pustaka
Fattah Nanang, 2000, Landasan Manajemen Pendidikan, Remaja
Rosdakarya, Bandung.
Gomes Cardoso Faustino,
2001, Manajemen Sumber Daya Manusia, Andi
Offset, Yogyakarta.
Handoko Hani, 2001, Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia
edisi 2, BPFE IKAPI, Yogyakarta.
Hasibuan Malayu S.P., 2006, Manajemen dasar, pengertian dan
masalah, Bumi Aksara, Jakarta.
Susan E. Jackson dan
Randall S. Schuler, 1996, Manajemen
Sumber Daya Manusia; menghadapi abad ke-21, Erlangga, Jakarta.
S. Ruky Achmad, 2003,
SDM Berkualitas; Mengubah Visi Menjadi Realitas, Gramedia Pusataka Utama,
Jakarta.
https://elfalasy88.wordpress.com/tag/lembaga-pendidikan-islam/
[1]
https://elfalasy88.wordpress.com/tag/lembaga-pendidikan-islam/
[2] Faustino Cardoso Gomes, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Andi Offset, Yogyakarta 2001) hlm,
2.
[3] Hani Handoko, Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia edisi 2 (BPFE IKAPI,
Yogyakarta 2001) hlm, 3.
[4] Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen dasar, pengertian dan masalah, (Bumi Aksara, Jakarta
2006) hlm, 177.
[5] Faustino Cardoso Gomes, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Andi Offset, Yogyakarta 2001) hlm,
117.
[6] Randall S. Schuler dan
Susan E. Jackson, Manajemen Sumber Daya
Manusia; menghadapi abad ke-21, (Erlangga, Jakarta 1996) hlm, 276.
[7] Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Remaja Rosdakarya, Bandung 2000)
hlm, 13.
[8] Faustino Cardoso Gomes, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Andi Offset, Yogyakarta 2001) hlm,
118.
[9] Randall S. Schuler dan Susan E. Jackson, Manajemen Sumber Daya Manusia; menghadapi
abad ke-21, (Erlangga, Jakarta 1996) hlm, 286.
[10] Hani Handoko, Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia
edisi 2 (BPFE IKAPI, Yogyakarta 2001) hlm, 85.
[11] Achmad S. Ruky, SDM Berkualitas; Mengubah Visi Menjadi Realitas, (Gramedia
Pusataka Utama, Jakarta 2003) hlm, 155.
[12] Randall S. Schuler dan
Susan E. Jackson, Manajemen Sumber Daya
Manusia; menghadapi abad ke-21, (Erlangga, Jakarta 1996) hlm, 285.
[13] Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen dasar, Pengertian dan Masalah, (Bumi Aksara, Jakarta
2006) hlm, 179.
[14] Achmad S. Ruky, SDM Berkualitas; Mengubah Visi Menjadi Realitas, (Gramedia
Pusataka Utama, Jakarta 2003) hlm, 162.
Komentar
Posting Komentar